Kamis, 05 Mei 2011

Bekantan di Tarakan


Taman untuk Monyet Belanda
Oleh: Sonny Majid

JEMBATAN ulin dengan lebar kurang lebih dua meter itu terpasang meliuk-liuk di tengah rimbunan berbagai jenis mangrove. Panjang keseluruhan jembatan ulin itu mencapai 2.400 meter. Di muka pintu masuk berdiri kokoh sebuah gapura dengan tinggi kurang lebih 1,7 meter dengan dua tiang pancang bewarna coklat gelap. Sementara atapnya berwarna hijau menggunakan genteng. Tepat diantara berdirinya tiang panjang ada papan reklame bertuliskan Kawasan Wisata Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB). Lokasinya berada di Jalan Gajah Mada Kelurahan Juata Kerikil Kecamatan Tarakan Utara.

KKMB merupakan satu-satunya kawasan konservasi yang berada di tengah pusat kota. Awal masuk ke kawasan konservasi itu, berdiri sebuah pos jaga sekaligus pos untuk membeli tiket. Untuk anak-anak dikenakan pembayaran Rp1.000. Sementara untuk orang dewasa dipungut biaya Rp1.500 sekali masuk. Tak jauh dari posko pertama, kurang lebih jaraknya 500 meter terdapat satu lagi pos jaga.

Namun pos kedua ini berbeda fungsinya. Sepertinya digunakan sebagai tempat peristirahatan para petugas lapangan yang jumlahnya tujuh orang itu.

Tepat ditengah-tengah lokasi konservasi, berdiri sebuat menara pantau dengan tinggi 16 meter. Dengan kapasitas muat 10 orang dan terbuat dari kayu ulin. Menara ini sengaja disediakan buat pengunjung yang ingin melihat langsung dari atas keindahan Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan, termasuk pesisir laut dan sebagian sudut kota Tarakan yang berbentuk pulau itu.

Kerindangannya pun tak kalah dengan Kebun Raya Istana Bogor. Di kawasan itu ada sebuah gazebo yang diisi dengan berbagai buku-buku bacaan tentang mangrove dan satwa langka yang ada disana. Khusus di kawasan tempat Bekantan berkumpul, ada pintu berpagar kawat yang dipasang. Alasannya, untuk mengamankan Bekantan saat makan agar tidak diganggu pengunjung.

Menurut pengakuan koordinator petugas lapangan KKMB, Dulah Kadir, kawasan konservasi yang dibangun pada 2000 ini memiliki luas sembilan haktare. Namun pada 6 Desember 2006, pemerintah kota Tarakan membebaskan lahan seluas 12 hektare lagi untuk memperluas KKMB. Dengan demikian, total luas KKMB sekarang 21 hektare.

Pada saat kawasan dibangun pertama kali, jumlah Bekantan (Nasalis Lavartus) yang menghuni KKMB hanya tiga ekor. Monyet Belanda, begitulah orang di Kaltim menjuluki monyet berhidung panjang ini dipungut oleh Walikota Tarakan, Jusuf SK pada saat ia melakukan sebuah kunjungan kerja di Berau, masih provinsi Kalimantan Timur. Pada perjalanannya, pihak KKMB kembali menyelamatkan 19 ekor Bekantan dari pulau Liago dan kabupaten Bulungan. Belum lagi Bekantan yang diserahkan warga sekitar. ”Sekarang ada 45 ekor Bekantan,” kata Kadir, pria berusia 68 tahun ini menjelaskan.

Bekantan adalah salah satu hewan primata khas Kalimantan. Di Kaltim, banyak kita temui di Kabupaten Bulungan, Berau, Tarakan.

Hanya ada satu kandang isolasi. Kandang isolasi itu, jelas Kadir digunakan jika ada Bekantan betina hendak melahirkan. ”Menghindari serangan biawak muara,” paparnya. Selain itu ruang isolasi itu juga dipakai sebagai karantina pemeriksaan kesehatan satwa, khususnya Bekantan. Sebanyak 14 ekor Bekantan diantaranya lahir di KKMB. Di KKMB sendiri terbagi dalam tiga kelompok besar Bekantan. Pasalnya, tak jarang, kerap terjadi perkelahian antar pimpinan kelompok yang ingin memperebutkan posisi ”kepala suku”.

Eksotisme KKMB tidak hanya Bekantan. Adapula panorama atau view perpaduan antara alam laut dan hutan mangrove yang lebih dinamis. Ketika air surut, tampak keindahan pohon bakau dari pucuk hingga ke akarnya yang berbentuk tunjang mencengkram tanah berlumpur. Kumpulan monyet ekor panjang (Macaca Fascicularis) asyik bermain di antara akar pohon bakau. Sesekali terlihat kerumunan kera itu mencari ikan dan kepiting.

Sedikitnya ada 13 spesies kepiting yang hidup di KKMB. Belum lagi ikan gelodok atau tempakul (mudskipper periopthalmus sp) di celah-celah akar bakau. Konon ikan ini dipercaya mampu mengobati sakit asma. Berikut Elang Bondol (Heliastur Indus) dan Raja Udang juga dapat ditemui di KKMB.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Kota Tarakan, Subono saat ditemui di ruang kerjanya mengatakan, untuk anggaran rutin yang digelontorkan buat KKMB setiap bulannya sebesar Rp5 juta. ”Sementara anggaran pemugaran dialokasikan sebesar Rp4 miliar,” jelasnya. Angka Rp5 juta setiap bulannya itu dinilai belum menutup biaya operasional KKMB. Kata Koordinator Lapangan KKMB, anggaran itu hanya untuk membayar gaji tenaga lapangan. Selebihnya, pembiayaan memakai dana pembelian karcis masuk pengunjung. Sementara, jumlah pengunjung yang masuk ke dalam kawasan itu jumlahnya tidak tentu.

Inisiasi pembuatan kawasan konservasi mangrove dan Bekantan ini kali pertamanya digagas oleh Jusuf SK. Awalnya, hanya ingin membuat paru-paru kota. Mengingat Kota Tarakan merupakan sebuah kota yang berdiri di salah satu pulau yang terpisah dengan pulau Kalimantan. Namun pada proses perjalanannya, Jusuf berpikir harus pula menyelamatkan Bekantan. Meski bercita-cita menjadikan Kota Tarakan sebagai ”Singapura” baru, tetap pembangunan yang berlangsung di Tarakan harus diimbangi dengan kawasan hijau. Terbitlah Surat Keputusan Walikota nomor 591/HK-V/257/2001 tentang pemanfaatan hutan mangrove.

SK Walikota itu akhirnya dikuatkan dengan ditelorkannya peraturan daerah nomor 4/2002 tentang larangan dan pengawasan hutan mangrove. Di dalam perda itu, diterapkan sanksi pidana maksimal hukuman lima bulan penjara bagi warga yang kedapatan merusak hutan mangrove dan memburu atau membunuh Bekantan. Ide Jusuf akhirnya membuahkan hasil. Pada awal tahun 2006 lalu ia memperoleh penghargaan Kalpataru. ”Obsesi saya perlu 6.000 hektare kawasan lindung di Tarakan,” tegasnya.

Sistem pengelolaan KKMB ini sangat sederhana. Walikota langsung menunjuk Camat setempat menjadi penanggungjawab kawasan konservasi. Tidak perlu membentuk suatu badan pengelola secara khusus. ”Yang mudah-mudah saja lah. Tak perlu terlalu sulit. Pelestarian itu kan tergantung keseriusan kita,” paparnya. Disepakati, akhirnya Bekantan dipilih menjadi ikon kota Tarakan. Karena Bekantan banyak terdapat di wilayah utara provinsi Kaltim.

Bekantan menurut Jusuf menjadi ciri khas yang unik dan mampu memberikan nilai plus dimata internasional. Kabarnya, pemerintah Kinabalu, Malaysia setelah berkunjung ke KKMB sepulangnya dari Tarakan, langsung membuat kawasan konservasi yang sama persis. Bekantan Kalimantan pun kini berada di Kinabalu. Selain KKMB, ada dua kawasan konservasi mangrove lain. Yaitu, KKMM (Kawasan Konservasi Mangrove Mamburungan) dengan luas 200 hektare yang dikelola dengan pola kerjasama masyarakat dengan pemerintah kota. Selanjutnya KKMA (Kawasan Konservasi Mangrove Aurora) seluas empat hektare di kawasan industri cold storage udang ekspor yang dikelola oleh dunia usaha, PT Mustika Aurora.

Rata-rata berat Bekantan jantan dewasa mencapai 16-22 kilogram. Sementara betina 7-12 kilogram. Menurut data yang diperoleh, populasi Bekantan di Indonesia saat ini jumlahnya mencapai 260.950 ekor. Dengan kepadatan 25 ekor per kilometer. Sementara populasi di kawasan konservasi 25.625 ekor. Selain Selain Tarakan, kawasan konservasi juga banyak ditemukan di Taman Nasional Kutai, Taman Nasional Tanjung Puting, Suaka Margasatwa Pelaihari Tanah Laut, cagar alam Pulau Kaget. Penyebaran Bekantan meliputi Brunai Darussalam, Kalimantan, dan Sabah Malaysia. Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam provinsi Kalimantan Timur, John Kenedie mengatakan, ancaman kepunahan Bekantan terjadi apabila tidak ada upaya menyelamatkan kondisi hutan mangrove.

Sebab, mangrove menjadi habitat paling cocok dengan Bekantan. Nah, lanjut Kenedie, untuk melindungi primata khas Kalimantan itu, cara yang paling jitu adalah menetapkan sebanyak-banyaknya kawasan konservasi mangrove. Ancaman bekantan adalah kegiatan perusakan habitat dengan menyulapnya menjadi lahan tambak. Sejauh ini BKSDA Kaltim belum pernah menerima laporan tentang penjualan bekantan ke pasar gelap. Sehingga ia tidak bisa mengira-ngira harga per ekor bekantan bila dijual di pasar bebas. “Bekantan sulit dipelihara. Tidak seperti jenis primata lainnya seperti orang utan. Karena bekantan masuk dalam satwa pemakan tumbuh-tumbuhan,” kata Kenedie.

Bekantan adalah spesies yang dominan ditemukan pagi hari dan sore hari. Dalam satu kelompok ada 3-32 ekor. Kelompok bekantan tidak akan meninggalkan induk jantan lebih dari 600 meter dari sungai. Bekantan akan pindah dari hutan sekitar sungai ke daerah mangrove pada siang hari. Dan kembali ke hutan sungai sore hari.

Di kaltim, baru ada tiga lokasi yang menetapkan sebuah kawasan konservasi mangrove dengan tujuan menyelamatkan bekantan. Antara lain, cagar alam Teluk Adang dan Teluk Apar. Keduanya masuk dalam wilayah administrasi kabupaten Kutai Pasir. Sedangkan Muara Kaman di kabupaten Kutai Kartanegara. Disinggung mengenai kawasan konservasi Bekantan di tengah kota, laiknya di Kota Tarakan, ia menilai ideal bila luasan hutan mangrove ditambah disesuaikan dengan perkembang biakan bekantan.Bekantan yang berada di Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan Tarakan jumlahnya terus meningkat.

Berarti bekantan itu mampu beradaptasi dengan perkembangan pembangunan kota di sekeliling kawasan konservasi.”Ya itu tadi, ke depan harus terus diperluas hutan mangrovenya. Bila tidak seimbang, ya pasti terganggu. Makanya kita mengusulkan Kabupaten Malinau menjadi kabupaten konservasi,” ujarnya. *

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar