Kamis, 05 Mei 2011

eks tapol PKI


Perjuangan Tuyul Mendapat Hak

Oleh: Sonny Majid

Kurun waktu 40 tahun tak cukup bagi Untung Suyanto untuk mengubur pengalaman pahit. Setiap kali mengingatnya, setiap kali pula ia merasakan kepedihan. "Sakit dada ini," kata Untung sambil mengurut dada.

Tampak air mata tergenang di pelupuk matanya. Peristiwa itu telah merenggut kariernya di ketentaraan, memberangus kesukaannya menghibur lewat pementasan ludruk, merampas kebebasannya, dan yang paling menyakitkan: menabalkan dirinya sebagai eks anggota Partai Komunis Indonesia (PKI).

Cerita pahit Untung berawal pada suatu hari tahun 1968. "Jangan bergerak, angkat tangan!" gertak seorang tentara dari kesatuan Infanteri 612 Mulawarman IX (sekarang Kodam VI Tanjungpura) sambil menodongkan senjata laras panjang AK-47. Untung memulai cerita di kediamannya di Desa Argosari, Kelurahan Amborawang Dalam, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Saat itu, Untung berpangkat kopral dua, bertugas di Batalyon I intel yang ditempatkan di Kuaro, Tanah Grogot, Pasir. Di bawah todongan bedil, ia diseret masuk ke dalam truk kelir hijau milik tentara. Lalu Untung, beserta 10 rekannya yang bernasib sama, dilarikan ke markas tentara. Setibanya di tempat tujuan, atasan Untung yang berpangkat sersan langsung memberondongnya dengan pertanyaan.

"Tung, kamu suka main ludruk?" tanya sang atasan, seperti ditirukan Untung. "Ya, Pak," jawab Untung. "Kamu orang Pemuda Rakyat atau Lekra?" sang sersan kembali bertanya.

Dengan terheran-heran Untung menjawab, "Bukan, Pak. Kelompok seni saya namanya Gaya Muda." Rupanya pengakuan Untung itu tidak memuaskan. Ia terus dicecar dengan pertanyaan seputar kegiatannya di dunia ludruk.

Beres meladeni pertanyaan sang atasan, Untung kembali harus menjalani pemeriksaan. Kali ini interogatornya bernama Mulyono. Yang membuat Untung kesal, pertanyaannya, ya, itu-itu juga, seputar kegiatannya di seni ludruk. Untung juga heran, sang penanya justru dikenalnya sebagai aktivis dan pengurus pusat PKI. "Kan, aneh. Kok, orang PKI disuruh menyelidiki orang yang diduga PKI," katanya.

Singkat kata, setelah menjalani penahanan dan bolak-balik diperiksa, pada 1970 Untung dijebloskan ke pusat rehabilitasi tahanan politik (tapol) PKI di kawasan Sumber Rejo, Balikpapan, Kalimantan Timur, tanpa lewat persidangan. Tujuh tahun lamanya ia mendekam di balik jeruji, sampai akhirnya menghirup udara bebas pada 1977. Meski demikian, surat bebasnya baru ia terima tahun 1980.

Untung tidak sendirian mengalami derita seperti itu. Ada Ismari Musran. Laki-laki berusia 74 tahun yang sehari-hari dipanggil Mbah Ismari ini mengaku ditangkap secara brutal, 20 hari setelah tragedi G-30-S pada 1965. Saat itu, Mbah Ismari tercatat sebagai karyawan kilang minyak Pertamina di Balikpapan. Ia dicokok dengan tuduhan membakar pabrik lilin yang letaknya satu areal dengan kilang minyak Pertamina.

Menurut Mbah Ismari, kegiatan di Serikat Buruh Pekerja Migas Pertamina yang menyeretnya ke penjara. "Saya dituduh sebagai anggota salah satu organisasi sayap PKI," kata pria kelahiran Malang, Jawa Timur, tahun 1931 itu.

Selama pemeriksaan, ia mengalami penyiksaan. Dipukuli hingga ditendang sepatu lars. Sampai-sampai, siksaan itu hingga kini meninggalkan bekas di lengan kirinya. Setelah menjalani pemeriksaan, Mbah Ismari mendekam di Rutan Stal Kuda, Balikpapan, hingga 20 tahun lamanya. Setelah bebas, ia kini dipercaya teman-temannya menjadi Dewan Penasihat Paguyuban Korban Orde Baru (Pakorba).

Sama seperti Untung, setelah bebas, Ismari ditempatkan di Desa Argosari, desa yang kelak dikenal sebagai perkampungan PKI. Tak hanya kaum laki-laki yang "dibuang" ke sana. Ada juga 65 eks tapol PKI perempuan.

Satu di antara eks tapol perempuan itu adalah Suparmi. Perempuan kelahiran Kediri, Jawa Timur, tahun 1943, ini sebelumnya menghuni kamp rehabilitasi tapol PKI di Sumber Rejo. Seperti Untung dan Ismari, Suparmi mengaku hanya sebagai korban karena merasa tak pernah melibatkan diri dengan PKI.

Awalnya, Suparmi menuturkan, bertandang sekelompok aktivis Gerwani --organisasi perempuan sayap PKI-- ke rumahnya pada 1965. Mereka mengajak Suparmi untuk bergabung. "Tapi saya tolak mentah-mentah," katanya.

Suparmi memilih jadi ibu rumah tangga biasa, mendampingi suami sebagai petani. Tapi, lima tahun berselang, tiba-tiba Suparmi, yang kala itu sedang hamil tua, ditangkap dan dijebloskan ke Rutan Tanah Grogot. Tiga tahun kemudian, ia dipindahkan ke kamp rehabilitasi Sumber Rejo. Belakangan, setelah bebas, Suparmi ditempatkan di Argosari.

Sejalan dengan reformasi, warga di sana mulai berjuang mendobrak belenggu. Samuri yang ditunjuk sebagai Ketua Pakorba melakukan pertemuan konsolidasi tiap akhir bulan. Sejauh ini, menurut Samuri, ada sejumlah poin yang diperjuangkan. Antara lain pengembalian hak-hak sipil, pemulihan nama baik, dan pemberian kompensasi. "Total, secara keseluruhan," ujar Samuri, yang akrab dipanggil Tuyul --sebutan bagi eks tapol PKI yang menjadi pesuruh selama di dalam tahanan.

Sejauh ini, Pakorba sudah minta bantuan lewat sejumlah lembaga swadaya masyarakat yang membidangi hak asasi manusia, termasuk Komnas HAM di Jakarta. Hasil sementara, rekonsiliasi dengan pemerintah sudah terjalin.

Namun, kata Tuyul, hal itu baru sebatas formalitas. Sebab, dalam kenyataannya, perlakuan terhadap mereka tak juga berubah. "Sampai saat ini, kami masih harus mengisi formulir yang mesti dilaporkan ke camat dan diteruskan ke koramil. Alasannya sih, untuk pendataan," kata bekas penghuni Rutan Berau dan Samarinda pada 1965 hingga 1969 itu.

Begitu juga perlakuan warga pada umumnya. Kata Tuyul, mereka tetap saja memberi cap negatif kepada eks tapol PKI. Ia mencontohkan, baru-baru ini seorang gadis anak eks tapol PKI yang hendak menikah dengan pria yang anggota TNI terpaksa batal. Ayah si calon mempelai laki-laki tidak memberi restu anaknya menikah dengan keturunan eks tapol PKI.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar